Senin, 14 Maret 2011

PERKEMBANGAN AGAMA DAN KEBUDAYAAN HINDU-BUDDHA DI INDONESIA

Setelah mempelajari bab ini, kamu diharapkan mampu:
• menjelaskan tentang teori-teori masuknya pengaruh Hindu-Buddha
ke Indonesia;
• memberikan contoh bentuk-bentuk kebudayaan Hindu-Buddha yang
masuk ke Indonesia.

PERKEMBANGAN
AGAMA DAN KEBUDAYAAN
HINDU-BUDDHA DI INDONESIA
(Sumber: Chalid Latif, 2000, Atlas Sejarah Indonesia dan Dunia, halaman 9)
(Sumber: Nugroho, Sejarah Nasional Indonesia Jilid II, halaman 520)
2
Munculnya kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha di Indonesia
tidak terlepas dari pengaruh persentuhan kebudayaan antara daerah Nusantara
dengan India sebagai tempat kelahiran kedua agama tersebut. Persentuhan
kebudayaan ini terjadi sebagai salah satu akibat dari hubungan yang dilakukan
antara orang-orang India dengan orang-orang yang ada di Nusantara, terutama
karena daerah Nusantara merupakan jalur perdagangan strategis yang
menghubungkan antara India dan Cina. Hubungan perdagangan yang semakin
lama semakin intensif menimbulkan pengaruh terhadap masuknya pengaruhpengaruh
kebudayaan India di Nusantara. Dengan kata lain, terjadi proses
akulturasi antara kebudayaan India dengan kebudayaan Nusantara. Demikian
juga dengan agama Hindu-Buddha menjadi agama yang dianut oleh penduduk
di Nusantara dan menjadi pendorong muncul dan berkembangnya negaranegara
kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha di Indonesia.
Gambar 1.1
Peta pengaruh para pelaut Cina
(Sumber: Chalid Latif: Atlas Sejarah Indonesia dan Dunia, halaman 7)
A. TEORI TENTANG MASUK DAN BERKEMBANGNYA KEBUDAYAAN
HINDU-BUDDHA DI INDONESIA
Untuk memahami bagaimana proses
masuk dan berkembangnya agama dan kebudayaan
Hindu-Buddha di Indonesia, kita
perlu mengkaji pendapat yang dikemukakan
oleh para ahli. Pendapat yang dikemukakan
oleh para ahli tersebut merupakan sebuah
hipotesis (dugaan sementara) yang masih
memerlukan pembuktian yang akurat. Akan
Kata-kata kunci
• teori kolonialisasi
• hipotesis Waisya
• hipotesis Ksatria
• hipotesis Brahmana
• teori Arus Balik
3
tetapi hipotesis-hipotesis tersebut sangat berguna dalam memberikan pemahaman
pada kita tentang bagaimana proses masuk dan berkembangnya agama dan
kebudayaan Hindu-Buddha di Indonesia. Tugas kamu untuk menganalisis
lebih lanjut hipotesis-hipotesis tersebut, sehingga kamu dapat memilih salah
satu hipotesis yang menurut kamu paling mendekati kebenaran. Tentu saja
pilihan kamu harus dilandaskan pada argumentasi dan logika yang kuat disertai
dengan data, fakta dan bukti-bukti yang akurat.
Berikut ini adalah hipotesis-hipotesis yang dikemukakan oleh beberapa
ahli tentang proses masuk dan berkembangnya agama dan kebudayaan Hindu-
Buddha di Indonesia. Hipotesis-hipotesis tersebut dibagi ke dalam dua kelompok
besar yaitu teori kolonisasi dan teori arus balik.
1. Teori kolonisasi
Teori ini berusaha menjelaskan proses masuk dan berkembangnya agama
dan kebudayaan Hindu-Buddha di Indonesia dengan menekankan pada peran
aktif dari orang-orang India dalam menyebarkan pengaruhnya di Indonesia.
Berdasarkan teori ini, orang Indonesia sendiri sangat pasif, artinya mereka
hanya menjadi objek penerima pengaruh kebudayaan India tersebut. Teori
kolonisasi ini terbagi dalam beberapa hipotesis, yaitu sebagai berikut.
a. Hipotesis Waisya
Menurut NJ. Krom, proses terjadinya hubungan antara India dan Indonesia
karena adanya hubungan perdagangan, sehingga orang-orang India yang datang
ke Indonesia sebagian besar adalah para pedagang. Perdagangan yang terjadi
pada saat itu menggunakan jalur laut dan teknologi perkapalan yang masih
banyak tergantung pada angin musim. Hal ini mengakibatkan dalam proses
tersebut, para pedagang India harus menetap dalam kurun waktu tertentu
sampai datangnya angin musim yang memungkinkan mereka untuk melanjutkan
perjalanan. Selama mereka menetap, memungkinkan terjadinya perkawinan
dengan perempuan-perempuan pribumi. Mulai dari sini pengaruh kebudayaan
India menyebar dan menyerap dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
Pendapat Krom tersebut didasarkan penelaahan dia pada proses Islamisasi
di Indonesia yang dilakukan oleh para pedagang Gujarat. Bukan hal yang
mustahil, proses masuknya budaya Hindu-Buddha di Indonesia dilakukan
dengan cara yang sama. Namun, teori ini memiliki kelemahan, yaitu para
pedagang yang termasuk dalam kasta Waisya tidak menguasai bahasa Sanskerta
dan huruf Pallawa yang umumnya hanya dikuasai oleh kasta Brahmana. Namun
bila menilik peninggalan prasasti yang dikeluarkan oleh negara-negara kerajaan
Hindu-Buddha di Indonesia, sebagian besar menggunakan bahasa Sanskerta
dan berhuruf Pallawa. Dengan demikian, timbul pertanyaan: Mungkinkah
4
para pedagang India mampu membawa pengaruh kebudayaan yang sangat
tinggi ke Indonesia, sedangkan di daerahnya sendiri kebudayaan tersebut
hanya milik kaum Brahmana? Selain itu, terdapat kelemahan lain dalam hipotesis
ini yaitu dengan melihat peta persebaran kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha
di Indonesia yang lebih banyak berada di pedalaman. Namun apabila pengaruh
tersebut dibawa oleh para pedagang India, tentunya pusat kerajaan-kerajaan
Hindu-Buddha akan lebih banyak berada di daerah pesisir pantai.
b. Hipotesis Ksatria
Ada tiga ahli yang mengemukakan pendapatnya mengenai proses penyebaran
agama dan kebudayaan Hindu-Buddha dilakukan oleh golongan ksatria, yaitu
sebagai berikut.
1) C.C Berg
C.C. Berg mengemukakan bahwa golongan yang turut menyebarkan
kebudayaan Hindu-Buddha di Indonesia adalah para petualang yang
sebagian besar berasal dari golongan Ksatria. Para Ksatria ini ada yang
terlibat konflik dalam masalah perebutan kekuasaan di Indonesia. Bantuan
yang diberikan oleh para Ksatria ini sedikit banyak membantu kemenangan
bagi salah satu kelompok atau suku yang bertikai. Sebagai hadiah atas
kemenangan itu, ada di antara mereka yang dinikahkan dengan salah
seorang putri dari kepala suku yang dibantunya. Dari perkawinannya
ini memudahkan bagi para Kesatrian untuk menyebarkan tradisi Hindu
Buddha kepada keluarga yang dinikahinya tadi. Berkembanglah tradisi
Hindu-Buddha dalam masyarakat Indonesia.
2) Mookerji
Dia mengatakan bahwa golongan Ksatria (tentara) dari India yang membawa
pengaruh kebudayaan Hindu-Buddha ke Indonesia. Para Ksatria ini
kemudian membangun koloni-koloni yang akhirnya berkembang menjadi
sebuah kerajaan. Para koloni ini kemudian mengadakan hubungan
perdagangan dengan kerajaan-kerajaan di India dan mendatangkan para
seniman yang berasal dari India untuk membangun candi-candi di Indonesia.
3) J.L Moens
Dia mencoba menghubungkan proses terbentuknya kerajaan-kerajaan
di Indonesia pada awal abad ke-5 dengan situasi yang terjadi di India
pada abad yang sama. Perlu diketahui bahwa sekitar abad ke-5, banyak
kerajaan-kerajaan di India Selatan yang mengalami kehancuran. Ada
di antara para keluarga kerajaan tersebut, yaitu para Ksatrianya yang
5
melarikan diri ke Indonesia. Mereka ini selanjutnya mendirikan kerajaan
di kepulauan Nusantara.
Kekuatan hipotesis Ksatria terletak pada kenyataan bahwa semangat
berpetualang pada saat itu umumnya dimiliki oleh para Ksatria (keluarga
kerajaan). Sementara itu, kelemahan hipotesis yang dikemukakan oleh Berg,
Moens, dan Mookerji yang menekankan pada peran para Ksatria India dalam
proses masuknya kebudayaan India ke Indonesia terletak pada hal-hal sebagai
berikut, yaitu:
1) Para Ksatria tidak menguasai bahasa Sanskerta dan huruf Pallawa;
2) Apabila daerah Indonesia pernah menjadi daerah taklukkan kerajaankerajaan
India, tentunya ada bukti prasasti (jaya prasasti) yang
menggambarkan penaklukkan tersebut. Akan tetapi, baik di India maupun
Indonesia tidak ditemukan prasasti semacam itu. Adapun prasasti Tanjore
yang menceritakan tentang penaklukkan kerajaan Sriwijaya oleh salah
satu kerajaan Cola di India, tidak dapat dipakai sebagai bukti yang
memperkuat hipotesis ini. Hal ini disebabkan penaklukkan tersebut terjadi
pada abad ke-11 sedangkan bukti-bukti yang diperlukan harus menunjukkan
pada kurun waktu yang lebih awal.
c. Hipotesis Brahmana
Hipotesis ini menyatakan bahwa tradisi India yang menyebar ke Indonesia
dibawa oleh golongan Brahmana. Pendapat ini dikemukan oleh JC.Van Leur.
Berdasarkan pada pengamatannya terhadap sisa-sisa peninggalan kerajaankerajaan
yang bercorak Hindu-Buddha di Indonesia, terutama pada prasastiprasasti
yang menggunakan bahasa Sansekerta dan huruf Pallawa, maka sangat
jelas itu adalah pengaruh Brahmana. Oleh karena itu, dia berpendapat bahwa
kaum Brahmanalah yang menguasai bahasa dan huruf itu, sehingga pantas
jika mereka yang memegang peranan penting dalam proses penyebaran agama
dan kebudayaan Hindu-Buddha di Indonesia.
Akan tetapi, bagaimana mungkin para Brahmana bisa sampai ke Indonesia
yang terpisahkan dengan India oleh lautan. Dalam tradisi agama Hindu terdapat
pantangan bagi kaum Brahmana untuk menyeberangi lautan, sehingga hal ini
menjadi kelemahan hipotesis ini.
2. Teori Arus Balik
Pendapat yang dikemukakan tersebut di atas mendapat kritikan dari
F.D.K Bosch. Adapun kritikan yang dikemukakannya adalah sebagai berikut.
a. Berdasarkan pada peninggalan-peninggalan yang ada, ternyata teori kolonisasi
tidak mempunyai bukti yang kuat. Untuk hipotesa Waisya, tidak terbukti
6
bahwa kerajaan awal di Indonesia yang bercorak Hindu-Buddha ditemukan
di pesisir pantai, melainkan terletak di pedalaman. Kritikan untuk hipotesa
Ksatria, ternyata tidak ada jaya prasasti yang menyatakan daerah atau
kerajaan yang ada di Indonesia pernah ditaklukkan atau dikuasai oleh
para Ksatria dari India.
b. Bila ada perkawinan antara golongan Ksatria dengan putri pribumi dari
Indonesia, seharusnya ada keturunan dari mereka yang ditemukan di
Indonesia. Pada kenyataannya, hal itu tidak ditemukan.
c. Dilihat dari hasil karya seni, terdapat perbedaan pembangunan antara
candi-candi yang dibangun di Indonesia dengan candi-candi yang dibangun
di India.
d. Kritikan yang lain adalah dilihat dari sudut bahasa. Bahasa Sanskerta
hanya dikuasai oleh para Brahmana, tetapi kenapa bahasa yang digunakan
oleh masyarakat pada waktu itu adalah bahasa yang digunakan oleh
kebanyakan orang India.
Selanjutnya, F.D.K Bosch punya pendapat lain. Teori yang dikemukakan
oleh Bosch ini dikenal dengan teori Arus Balik. Menurut teori ini, yang pertama
kali datang ke Indonesia adalah mereka yang memiliki semangat untuk
menyebarkan Hindu-Buddha, yaitu para intelektual yang ikut menumpang
kapal-kapal dagang. Setelah tiba di Indonesia, mereka menyebarkan ajarannya.
Karena pengaruhnya itu, ada di antara tokoh masyarakat yang tertarik untuk
mengikuti ajarannya tersebut. Pada perkembangan selanjutnya banyak orang
Indonesia sendiri yang pergi ke India untuk berkunjung dan belajar agama
Hindu-Buddha di India. Sekembalinya di Indonesia, merekalah yang
mengajarkannya kepada masyarakat Indonesia yang lain.
Bukti-bukti dari pendapat di atas adalah adanya prasasti Nalanda yang
menyebutkan bahwa Balaputradewa (raja Sriwijaya) telah meminta kepada
raja di India untuk membangun wihara di Nalanda sebagai tempat untuk menimba
ilmu para tokoh dari Sriwijaya. Permintaan raja Sriwijaya itu ternyata dikabulkan.
Dengan demikian, setelah para tokoh atau pelajar itu menuntut ilmu di sana,
mereka balik ke Indonesia. Merekalah yang selanjutnya menyebarkan pengaruh
Hindu-Buddha di Indonesia.
Kegiatan 1.1
Buatlah dalam bentuk tabel tentang teori-teori masuknya agama Hindu dan
Buddha serta cantumkan ketepatan dan kelemahan dari masing-masing teori
tersebut.
7
B. BENTUK-BENTUK KEBUDAYAAN HINDU- BUDDHA YANG
MASUK KE INDONESIA
Masuknya kebudayaan India ke
Indonesia telah membawa pengaruh terhadap
perkembangan kebudayaan di Indonesia.
Bangsa Indonesia yang sebelumnya memiliki
kebudayaan asli, banyak mengadopsi dan
mengembangkan budaya India dalam
kehidupan sehari-hari. Namun, masyarakat
tidak begitu saja menerima budaya-budaya
baru tersebut. Kebudayaan yang datang dari
India mengalami proses penyesuaian dengan
kebudayaan yang ada di Indonesia yang
disebut dengan proses akulturasi kebudayaan.
Dalam bidang agama juga lahir sinkretisme, yaitu perpaduan antara agama
Hindu-Buddha dengan kepercayaan yang telah ada dan berkembang di masyarakat
Indonesia pada saat itu. Sehingga agama Hindu-Buddha yang dianut oleh
bangsa Indonesia pada aman kerajaan-kerajaan sangat berbeda dengan agama
Hindu-Buddha yang ada di India. Masuknya agama Hindu dan Buddha tidak
serta merta menghilangkan unsur budaya lama yang telah berkembang dalam
masyarakat Indonesia. Salah satu contoh yang sangat mencolok dalam kehidupan
masyarakat Hindu di Indonesia misalnya dalam sistem kasta. Sistem kasta
di Indonesia yang mengadopsi dari agama Hindu tidak sama dengan sistem
kasta yang berkembang dari tanah kelahiran agama tersebut yaitu India. Baik
dari ciri-ciri maupun keketatannya tidak menggambarkan keadaan seperti
sistem kasta di India. Bangsa Indonesia melaksanakan teori tentang kasta,
tetapi tidak memindahkan wujudnya seperti yang berkembang di India, melainkan
disesuaikan dengan kondisi masyarakat yang sudah berlaku sebelumnya.
Beberapa unsur kebudayaan yang berkembang pada aman kerajaan
Hindu-Buddha antara lain, seni bangunan, seni ukir, seni sastra, dan seni
patung. Salah satu hasil seni bangunan yang paling penting dalam perkembangan
seni bangunan di Indonesia adalah candi. Demikian juga halnya dalam seni
pembuatan candi yang merupakan pengaruh dari India, akan tetapi dalam
penerapannya menggunakan unsur-unsur budaya yang telah berkembang
sebelumnya di tanah Indonesia. Pembuatan candi yang secara teoritis
menggunakan dasar-dasar yang tercantum dalam kitab Silpasastra akan tetapi
pada tahap pelaksanaan dan hasilnya memperlihatkan corak budaya asli Indonesia.
Silpasastra ialah sebuah kitab pegangan yang memuat berbagai petunjuk
untuk melaksanakan pembuatan arca dan bangunan.
Kata-kata kunci
• bentuk kebudayaan
• candi
• seni sastra
• pendidikan
• politik dan pemerintahan
• relief
• arca
• wayang
• seni tari
• prasasti
8
Pembuatan candi di India selalu menunjukkan fungsinya yang utama yaitu
sebagai tempat peribadatan. Sementara candi-candi yang terdapat di Indonesia
tidak hanya difungsikan sebagai tempat peribadatan tetapi juga tempat pemakaman
raja atau orang-orang yang dimuliakan. Hal ini tampaknya dipahami oleh
masyarakat Indonesia bahwa kata candi berasal dari nama Durga sebagai
Dewi Maut yaitu Candika. Dari kata Candika menunjukkan bahwa candi
merupakan tempat untuk memuliakan orang yang telah meninggal, khususnya
untuk para raja dan orang-orang terkemuka.
Terdapat perbedaan fungsi candi antara agama Hindu dan Buddha. Dalam
agama Hindu, candi adalah tempat penguburan abu jena ah. Di Bali upacara
pembakaran mayat dinamakan Ngaben. Di dalam candi Hindu biasanya terdapat
patung-patung dari para penguasa (raja) atau orang-orang terkenal yang
dijelmakan sebagai dewa. Dalam agama Buddha, candi berfungsi sebagai
tempat pemujaan. Arca yang ada dalam candi Buddha bukanlah arca perwujudan
dari raja.
Candi-candi yang bercorak agama Hindu-Buddha banyak ditemukan
di Pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, dan Bali.
1. Candi di Jawa Tengah dan Yogyakarta
Di Jawa Tengah dan Yogyakarta banyak ditemukan candi, baik yang
bercorak Hindu maupun Buddha, di antaranya sebagai berikut.
a. Candi Borobudur terletak di desa Budur, Magelang. Candi ini bercorak
Buddha dan didirikan oleh keluarga Syailendra pada aman Mataram
Lama. Bentuk candi Borobudur yang berupa punden berundak-undak
menggambarkan adanya akulturasi antara budaya India dengan budaya
asli Indonesia dari aman megalithikum. Berdasarkan ajaran Buddha
Mahayana, candi Borobudur merupakan Dasya-bodhisatwa-bhumi,
artinya tempat mencapai kebuddhaan melalui sepuluh tingkat bodhisatwa.
Borobudur terdiri atas sepuluh tingkat yang terbagi dalam tiga bagian
yaitu kamadhatu (merupakan tingkatan paling rendah atau disebut kaki
candi, pada tingkatan manusia masih terpengaruh oleh keduniawian),
Rupadhatu (merupakan bagian lorong-lorong dengan dinding-dinding
yang penuh dengan hiasan dan relief, pada tingkat ini manusia masih
terikat pada bentuk keduniawian, tetapi telah insyaf untuk mencari
kebenaran), A-rupadhatu (bagian ini terdiri atas lantai yang bulat, di
sini terdapat 72 stupa dan stupa induk dipuncaknya yang sekaligus
merupakan mahkota candi Borobudur. Hal ini menggambarkan manusia
telah dapat membebaskan diri sama sekali dari nafsu keduniawian dan
hanya satu keinginan, yaitu mencapai moksa).
9
Gambar 1.2
Candi Borobudur dibangun pada masa
pemerintahan Raja Samaratungga
(Sumber: Chalid Latif, 2000, Atlas Sejarah Indonesia dan Dunia, halaman 9)
b. Candi Mendut dan candi Pawon terletak tidak jauh dari candi Borobudur.
Kedua candi ini bercorak Buddha dan merupakan candi tiga serangkai
dengan candi Borobudur. Ketiga candi ini terletak pada satu garis lurus,
hal ini sengaja dilakukan berdasarkan ajaran Buddha Mahayana. Menurut
ajaran agama Buddha Mahayana, untuk mencapai tujuan terakhir (moksa),
yaitu mencapai kedudukan sebagai Buddha harus melalui jalan secara
bertahap. Tahap-tahap tersebut terdiri atas dua bagian yaitu Dasyabodhisatwabhumi
disebut tingkat lokattara (tingkat di atas dunia), sebelum
sampai ke tingkat lokattara lebih dahulu harus menjalani tingkat persiapan.
Tingkat persiapan tersebut terdiri atas dua tahap pula, yaitu Sambharamarga
dan Prayogamarga. Kedua tahap ini merupakan tahap kehidupan di
dunia atau laukika. Jadi dari paham tersebut dapat diterangkan bahwa
Gambar 1.3 Candi Mendut
(Sumber: Suprihadi, dkk, 1999,
Atlas Sejarah, halaman cover belakang
bagian dalam)
Gambar 1.4
Candi Pawon
(Sumber: Chalid Latif, 2000,
Atlas Sejarah Indonesia dan
Dunia, halaman 16)
10
candi Borobudur yang bersifat lokattara dibangun di atas bukit, sedangkan
candi Mendut dan candi Pawon yang bersifat laukika dan masing masing
menggambarkan Sambharamarga dan Prayogamarga dibangun di atas
permukaan bumi (daerah pedataran).
c. Candi Prambanan dikenal pula dengan
nama Candi Lorojonggrang, bercorak
Hindu dan terletak di desa Prambanan.
Relief candi Prambanan mengambil kisah
Rama dari kitab Ramayana. Relief ini
ditatahkan pada dinding lorong di atas
candi pertama, yang mengelilingi kaki candi
kedua.
d. Kelompok candi Dieng, yang terdapat di Pegunungan Dieng letaknya
sekitar 25 kilometer dari kota Wonosobo. Candi-candi ini bercorak Hindu.
Di dataran tinggi Dieng terdapat beberapa buah candi antara lain Candi
Bima, Candi gatotkaca, Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Srikandi,
Candi Puntadewa, dan Candi Subadra.
Gambar 1.6 Kelompok Candi Dieng
(Sumber: us4.pixagogo)
e. Candi lainnya adalah Candi Sukuh terletak di lereng Gunung Latu, Karang
Anyar, Candi Sarjiwan terletak di selatan Prambanan, Candi Lumbung
di selatan Candi Sewu, dan Candi Sari atau Candi Bendah lokasinya
tidak jauh dari Candi Kalasan
Gambar 1.5
Candi Prambanan
(Sumber: Suprihadi, dkk. 1999,
Atlas Sejarah, halaman 20)
11
2. Candi-candi di Jawa Timur
Begitu pula halnya di Jawa Timur, banyak ditemukan candi, di antaranya
sebagai berikut.
a. Candi Badut terletak di Desa Dinoyo, sebelah barat laut Malang, merupakan
candi bercorak Hindu yang didirikan sekitar abad ke-8 M. Candi
Singhasari terletak di Desa Candinegoro sekitar 10 km dari kota Malang.
Candi ini berasal dari abad ke-14 dan dihubungkan dengan Raja Kertanegara
dari Kerajaan Singhasari.
b. Candi Jago (Candi Jajaghu) terletak 18 kilometer dari kota Malang.
Candi ini merupakan candi bercorak Siwa-Buddha dan bentuknya berundakundak
tiga buah serta di halaman candi terdapat beberapa patung Buddha.
Candi ini dibangun pada masa Raja Kertanegara dari kerajaan Singhasari.
Gambar 1.8 Candi Jago
(Sumber: R. Soekmono, 1981, Pengantar Sejarah
Kebudayaan Jilid 2, halaman 65)
Gambar 1.7a Candi Badut
(Sumber: R. Soekmono, 1981,
Pengantar Sejarah
Kebudayaan Jilid 2, halaman 41)
Gambar 1.7b Candi Singhasari
(Sumber: R. Soekmono, 1981,
Pengantar Sejarah
Kebudayaan Jilid 2, halaman 67)
12
c. Candi Kidal terletak sekitar 7 kilometer sebelah tenggara dari candi
jago. Candi ini merupakan bangunan suci untuk memuliakan raja Anusapati
Raja Singhasari.
Gambar 1.9 Candi Kidal
(Sumber: Chalid Latif, 2000, Atlas Sejarah Indonesia dan Dunia, halaman 11)
d. Candi Panataran terletak sekitar 11 kilometer dari kota Blitar. Candi
Panataran merupakan kompleks candi yang terbesar di Jawa Timur dan
merupakan candi Siwa.
Gambar 1.10
Kompleks Candi Panataran
(Sumber: my-indonesia.info)
e. Candi Jajawa (Candi Jawi) terletak di Gunung Welirang yang merupakan
makam Raja Kertanegara.
13
f. Candi Singhasari yang terletak 10 kilometer dari kota Malang. Candi
sebagai tempat pendarmaan Raja Kertanegara yang digambarkan sebagai
Bhairawa (Siwa-Buddha)
Gambar 1.11 Candi Singhasari
(Sumber: R. Soekmono, 1981, Pengantar Sejarah
Kebudayaan Jilid 2, halaman 67)
g. Candi Rimbi terletak di Desa Pulosari, Jombang yang merupakan peninggalan
Kerajaan Majapahit pada abad ke-14.
h. Candi Bajang Ratu yang merupakan gapura di daerah Trowulan bekas
peninggalan kerajaan Majapahit.
i. Candi Sumber Awan bercorak Buddha sebagai penghargaan atas kunjungan
Raja Hayam Wuruk ke daerah kaki Gunung Arjuna.
Apabila dibandingkan antara kelompok-kelompok candi yang terdapat
di Jawa Tengah dengan Jawa Timur terdapat hal-hal yang sangat menarik.
Kelompok candi di Jawa Tengah seperti Borobudur, Pawon, Mendut dan
Prambanan yang sebagian besar merupakan peninggalan kerajaan Mataram
adalah kelompok bangunan candi yang difungsikan sebagai tempat pemujaan
keagamaan, baik Hindu ataupun Buddha. Sementara kelompok candi yang
terdapat di Jawa Timur seperti candi Kidal, Jago, Panataran, merupakan
candi yang difungsikan sebagai makam keluarga raja. Jumlah candinya lebih
banyak tetapi wujudnya kecil-kecil bila dibandingkan dengan kelompok candi
Borobudur atau Prambanan. Candi-candi yang terdapat di Jawa Timur merupakan
peninggalan kerajaan Singhasari sampai Majapahit. Meskipun berwujud candi
Siwa atau Buddha, tetapi pada hakikatnya adalah candi makam dan bukan
untuk pemujaan Siwa atau Buddha. Hal ini memperlihatkan bahwa pada aman
Singhasari sampai Majapahit telah terjadi pembauran antara kepercayaan
asli yang berupa pemujaan arwah leluhur dengan kepercayaan Siwa dan Buddha.
14
3. Candi di Jawa Barat
Di Jawa Barat ditemukan candi yang
bercorak Siwa, yaitu candi Cangkuang terletak
di daerah Leles, Garut. Candi ini bentuknya sangat
sederhana dan diperkirakan berasal dari abad
ke-8 Masehi. Selain itu, di daerah Jawa Barat
ditemukan beberapa arca dan bangunan suci,
baik yang berbentuk bangunan teras berundak,
altar maupun percandian seperti Batu Kalde di
Pantai Pangandaran, Batujaya dan Cibuaya di
Karawang, Astana Gede di Kawali dan
Bojongmenje di daerah Cicalengka, Kabupaten
Bandung.
Gambar 1.12 Candi Cangkuang
(Sumber: Rashad Herman, dkk, 1999,
Atlas Sejarah, halaman cover belakang bagian dalam)
4. Candi-candi di luar Jawa
Di luar Jawa terdapat juga candi-candi, seperti berikut ini.
a. Di pulau Sumatra terdapat beberapa candi seperti Candi Muara Jambi
di Jambi yang memperlihatkan corak Buddha Mahayana. Ada juga Candi
Muara Takus di Riau (terbuat dari batu bata dan terdiri atas beberapa
bangunan stupa). Di komplek Candi Muara Takus ada beberapa candi
seperti Candi Tua, Candi Bungsu, dan Candi Mahligai. Kompleks percandian
(stupa) lainnya adalah Komplek Candi Padang Lawas yang terletak di
Sumatra Utara dan bercorak Siwaisme dan Budhisme. Di daerah Tapanuli
terdapat komplek Candi Gunung Tua yang bercorak Buddha.
Gambar 1.13 Candi Muara Takus
(Sumber: Chalid Latif, 2000, Atlas Sejarah Indonesia dan Dunia, halaman 8)
15
b Di Kalimantan Selatan ditemukan sebuah candi yaitu Candi Agung di
daerah Amuntai.
c. Di Bali terdapat Candi Padas atau Candi
Gunung Kawi yang terletak di desa
Tampaksiring Kabupaten Gianyar. Candi
ini dipahatkan pada dinding batu yang
keras dan merupakan tempat pemujaan
Raja Anak Wungsu putra terakhir dari
Raja Udayana.
Gambar 1.14
Kelompok candi Padas di Gunung Kawi
(Tampaksiring) Bali
(Sumber: R. Soekmono, 1981, Pengantar Sejarah
Kebudayaan Jilid 2, halaman 53)
Akulturasi antara kebudayaan lokal yang berkembang sebelum masuknya
pengaruh Hindu dengan budaya agama Hindu jelas terlihat pada beberapa
bangunan pura yang ditemukan di Bali. Pengaruh aman megalithikum dengan
budaya Hindu tampak terlihat dari bangunan pura yang mirip dengan bangunan
punden berundak-undak. Beberapa benda yang berasal dari budaya megalithikum
tetap dipelihara dan disandingkan dengan patung-patung agama Siwa dan
Buddha, misalnya beberapa peti mayat (sarcophagus) sampai sekarang masih
ditemukan di beberapa pura di Bali yang dianggap suci. Bentuk akulturasi
ini dapat kita lihat dari penyebutan atau pemberian nama terhadap para dewa
yang memperlihatkan unsur-unsur lokalitas wilayah Bali. Misalnya nama Dewa
Betara Da Tonta yang bisa kita temukan di daerah Trunyan, Bali, memperlihatkan
perpaduan nama unsur asli daerah Bali dengan sedikit bahasa Sanskerta.
Selain dari nama, bentuk Dewa ini memiliki kemiripan dengan arca dari aman
megalithikum.
Pada bentuk fisik bangunan candi di Indonesia, seperti candi Borobudur,
terdapat punden berundak-undak yang merupakan kebudayaan asli bangsa
Indonesia pada aman megalithikum. Hal ini menunjukkan adanya akulturasi
antara kebudayaan India dengan kebudayaan Indonesia asli dalam seni bangunan.
Ukiran atau relief yang ada pada dinding candi, banyak dipengaruhi oleh
kebudayaan India, berupa gambaran sehari-hari kehidupan manusia, ataupun
cerita dari kitab Ramayana dan Mahabharata.
Ditemukannya prasasti di Kalimantan Timur, adalah bukti pertama kali
adanya pengaruh Hindu-Buddha di Indonesia. Prasasti itu menandakan ada
Kerajaan Kutai yang bercorak Hindu. Tulisan pada batu yang berbentuk
16
yupa itu menggunakan bahasa Sanskerta dan huruf Pallawa. Pada perkembangan
selanjutnya, ditemukan juga prasasti-prasasti di daerah lain seperti Jawa dan
Sumatra, peninggalan Kerajaan Tarumanagara, Mataram Lama, dan Sriwijaya,
yang semuanya mendapat pengaruh unsur-unsur budaya India terutama unsurunsur
Hindu-Buddha.
Pengaruh kebudayaan Hindu-Buddha di Indonesia ini dapat dilihat dari
peninggalan-peninggalan sejarah dalam berbagai bidang, antara lain sebagai
berikut.
1. Bidang agama, yaitu berkembangnya agama Hindu-Buddha di Indonesia.
Sebelum masuk pengaruh India, kepercayaan yang berkembang di Indonesia
masih bersifat animisme dan dinamisme. Masyarakat pada saat itu
melakukan pemujaan terhadap arwah nenek moyang dan kekuatan-kekuatan
benda-benda pusaka tertentu serta kepercayaan pada kekuatan-kekuatan
alam. Dengan masuknya pengaruh Hindu-Buddha, kepercayaan asli bangsa
Indonesia ini kemudian berakulturasi dengan agama Hindu-Buddha. Hal
ini terbukti dari beberapa upacara keagamaan Hindu-Buddha yang
berkembang di Indonesia walaupun dalam beberapa hal tidak seketat
atau mirip dengan tata cara keagamaan yang berkembang di India. Kondisi
ini menunjukkan bahwa dalam tatacara pelaksanaan upacara keagamaan
mengalami proses sinkretisme antara kebudayaan agama Hindu-Buddha
dengan kebudayaan asli bangsa Indonesia.
2. Bidang politik dan pemerintahan, pengaruhnya terlihat jelas dengan
lahirnya kerajaan-kerajaan bercorak Hindu-Buddha di Indonesia. Sebelum
masuknya pengaruh agama Hindu-Buddha di Indonesia tampaknya belum
mengenal corak pemerintahan dengan sistem kerajaan. Sistem pemerintahan
yang berlangsung masih berupa pemerintahan kesukuan yang mencakup
daerah-daerah yang terbatas. Pimpinan dipegang oleh seorang kepala
suku bukanlah seorang raja. Dengan masuknya pengaruh India, membawa
pengaruh terhadap terbentuknya kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu-
Buddha di Indonesia. Kerajaan bercorak Hindu antara lain Kutai,
Tarumanagara, Kediri, Majapahit dan Bali, sedangkan kerajaan yang
bercorak Buddha adalah Kerajaan Sriwijaya. Hal yang menarik di Indonesia
adalah adanya kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha yaitu Kerajaan
Mataram lama.
3. Bidang pendidikan membawa pengaruh bagi munculnya lembaga-lembaga
pendidikan. Meskipun lembaga pendidikan tersebut masih sangat sederhana
dan mempelajari satu bidang saja, yaitu keagamaan. Akan tetapi lembaga
pendidikan yang berkembang pada masa Hindu-Buddha ini menjadi cikal
bakal bagi lahirnya lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia. Bukti17
bukti yang menunjukkan telah berkembangnya pendidikan pada masa
kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia, antara lain adalah:
a. Dalam catatan perjalanan I-Tsing, seorang pendeta yang berasal
dari Cina, menyebutkan bahwa sebelum dia sampai ke India, dia
terlebih dahulu singgah di Sriwijaya. Di Sriwijaya I-Tsing melihat
begitu pesatnya pendidikan agama Buddha, sehingga dia memutuskan
untuk menetap selama beberapa bulan di Sriwijaya dan menerjemahkan
salah satu kitab agama Buddha bersama pendeta Buddha yang ternama
di Sriwijaya, yaitu Satyakirti. Bahkan I-Tsing menganjurkan kepada
siapa saja yang akan pergi ke India untuk mempelajari agama Buddha
untuk singgah dan mempelajari terlebih dahulu agama Buddha di
Sriwijaya. Berita I-Tsing ini menunjukkan bahwa pendidikan agama
Buddha di Sriwijaya sudah begitu maju dan tampaknya menjadi
yang terbesar di daerah Asia Tenggara pada saat itu.
b. Prasasti Nalanda yang dibuat pada sekitar pertengahan abad ke-
9, dan ditemukan di India. Pada prasasti ini disebutkan bahwa raja
Balaputradewa dari Suwarnabhumi (Sriwijaya) meminta pada raja
Dewapaladewa agar memberikan sebidang tanah untuk pembangunan
asrama yang digunakan sebagai tempat bagi para pelajar agama
Buddha yang berasal dari Sriwijaya. Berdasarkan prasasti tersebut,
kita bisa melihat begitu besarnya perhatian raja Sriwijaya terhadap
pendidikan dan pengajaran agama Buddha di kerajaannya. Hal ini
terlihat dengan dikirimkannya beberapa pelajar dari Sriwijaya untuk
belajar agama Buddha langsung ke daerah kelahirannya yaitu India.
Tidak mustahil bahwa sekembalinya para pelajar ini ke Sriwijaya
maka mereka akan menyebarluaskan hasil pendidikannya tersebut
kepada masyarakat Sriwijaya dengan jalan membentuk asrama-asrama
sebagai pusat pengajaran dan pendidikan agama Buddha.
c. Catatan perjalanan I-Tsing menyebutkan bahwa pendeta Hui-Ning
dari Cina pernah berangkat ke Ho-Ling (salah satu kerajaan Buddha
di Jawa). Tujuannya adalah untuk bekerja sama dengan pendeta
Ho-Ling yaitu Jnanabhadra untuk menerjemahkan bagian terakhir
kitab Nirwanasutra. Dari berita ini menunjukkan bahwa di Jawa
pun telah dikenal pendidikan agama Buddha yang kemudian menjadi
rujukan bagi pendeta yang berasal dari daerah lain untuk bersamasama
mempelajari agama dengan pendeta yang berasal dari Indonesia.
d. Pada prasasti Turun Hyang, yaitu prasasti yang dikeluarkan oleh
Raja Airlangga menyebutkan tentang pembuatan Sriwijaya Asrama
oleh Raja Airlangga. Sriwijaya Asrama merupakan suatu tempat
yang dibangun sebagai pusat pendidikan dan pengajaran keagamaan.
18
Hal ini menunjukkan besarnya perhatian Raja Airlangga terhadap
pendidikan keagamaan bagi rakyatnya dengan memberikan fasilitas
berupa pembuatan bangunan yang akan digunakan sebagai sarana
pendidikan dan pengajaran.
e. Istilah surau yang digunakan oleh orang Islam untuk menunjuk lembaga
pendidikan Islam tradisional di Minangkabau sebenarnya berasal
dari pengaruh Hindu-Buddha. Surau merupakan tempat yang dibangun
sebagai tempat beribadah orang Hindu-Buddha pada masa Raja
Adityawarman. Pada masa itu, surau digunakan sebagai tempat
berkumpul para pemuda untuk belajar ilmu agama. Pada masa Islam
kebiasaan ini terus dilajutkan dengan mengganti fokus kajian dari
Hindu-Buddha pada ajaran Islam.
4. Bidang sastra dan bahasa. Dari segi bahasa, orang-orang Indonesia
mengenal bahasa Sanskerta dan huruf Pallawa. Pada masa kerajaan Hindu-
Buddha di Indonesia, seni sastra sangat berkembang terutama pada aman
kejayaan kerajaan Kediri. Karya sastra itu antara lain,
a. Arjunawiwaha, karya Mpu Kanwa yang disusun pada masa
pemerintahan Airlangga.
b. Bharatayudha, karya Mpu Sedah dan Mpu Panuluh disusun pada
aman kerajaan Kediri.
c. Gatotkacasraya, karya Mpu Panuluh disusun pada aman kerajaan
Kediri.
d. Arjuna Wijaya dan Sutasoma, karya Mpu Tantular yang disusun
pada aman kerajaan Majapahit.
e. Negarakertagama, karya Mpu Prapanca disusun pada aman kerajaan
Majapahit.
f. Wretta Sancaya dan Lubdhaka, karya Mpu Tanakung yang disusun
pada aman kerajaan Majapahit.
5. Bidang seni tari. Berdasarkan relief-relief yang terdapat pada candicandi,
terutama candi Borobudur dan Prambanan memperlihatkan adanya
bentuk tari-tarian yang berkembang sampai sekarang. Bentuk-bentuk
tarian yang digambarkan dalam relief memperlihatkan jenis tarian seperti
tarian perang, tuwung, bungkuk, ganding, matapukan (tari topeng).
Tari-tarian tersebut tampaknya diiringi dengan gamelan yang terlihat dari
relief yang memperlihatkan jenis alat gamelan yang terbatas seperti gendang,
kecer, gambang, saron, kenong, beberapa macam bentuk kecapi, seruling
dan gong.
19
Gambar 1.15
Tarian perang (relief candi Borobudur)
(Sumber: Nugroho, Sejarah Nasional Indonesia Jilid II, halaman 520)
6. Seni relief pada candi yang kemudian menghasilkan seni pahat. Hiasan
pada candi atau sering disebut relief yang terdapat pada candi-candi
di Indonesia didasarkan pada cerita-cerita epik yang berkembang dalam
kesusastraan yang bercorak Hindu ataupun Buddha. Pemilihan epik sebagai
hiasan relief candi dikenal pertama kali pada candi Prambanan yang
dibangun pada permulaan abad ke-10. Epik yang tertera dalam relief
candi Prambanan mengambil penggalan kisah yang terdapat dalam cerita
Ramayana. Hiasan relief candi Penataran pada masa Kediri mengambil
epik kisah Mahabharata. Sementara itu, kisah Mahabharata juga menjadi
epik yang dipilih sebagai relief pada dua candi peninggalan kerajaan
Majapahit, yaitu candi Tigawangi dan candi Sukuh.
7. Seni Arca dan Patung, sebagai akibat akulturasi budaya pemujaan arwah
leluhur dengan agama Hindu-Buddha maka beberapa keluarga raja
diperdewa dalam bentuk arca yang ditempatkan di candi makam. Arcaarca
dewa tersebut dipercaya merupakan lambang keluarga raja yang
dicandikan dan tidak mustahil termasuk di dalamnya kepribadian dan
watak dari keluarga raja tersebut. Oleh karena itu, arca dewa tersebut
sering diidentikkan dengan arca keluarga raja. Seni arca yang berkembang
di Indonesia memperlihatkan unsur kepribadian dan budaya lokal, sehingga
bukan merupakan bentuk peniruan dari India. Beberapa contoh raja
yang diarcakan adalah Raja Rajasa yang diperdewa sebagai Siwa di
candi makam Kagenengan, Raja Anusapati sebagai Siwa di candi makam
Kidal, Raja Wisnuwardhana sebagai Buddha di candi makam Tumpang,
Raja Kertanegara sebagai Wairocana Locana di candi makam Segala
dan Raja Kertarajasa Jayawardhana sebagai Harihara di candi makam
Simping.
Patung-patung dewa dalam agama Hindu yang merupakan peninggalan
sejarah di Indonesia, antara lain:
20
a. Arca batu Brahma.
b. Arca perunggu Siwa Mahadewa.
c. Arca batu Wisnu.
d. Arca-arca di Prambanan, di antaranya arca Lorojongrang.
e. Arca perwujudan Tribhuwanatunggadewi di Jawa Timur.
f. Arca Ganesa, yaitu dewa yang berkepala gajah sebagai dewa ilmu
pengetahuan.
8. Seni pertunjukan, terutama seni wayang sampai sekarang merupakan
salah satu bentuk seni yang masih populer di kalangan masyarakat Indonesia.
Seni wayang beragam bentuknya seperti wayang kulit, wayang golek,
dan wayang orang. Seni pertunjukan wayang tampaknya telah dikenal
oleh bangsa Indonesia sejak aman prasejarah.
Gambar 1.16 Wayang
(Sumber: Machmoed Effendhie, Sejarah Budaya 2004, halaman 109)
Pertunjukan wayang pada masa ini selalu dikaitkan dengan fungsi magisreligius
yaitu sebagai bentuk upacara pemujaan pada arwah nenek moyang
yang disebut Hyang . Kedatangan arwah nenek moyang diwujudkan
dalam bentuk bayangan dari sebuah wayang yang terbuat dari kulit. Lakon
wayang pada masa ini lebih banyak menceritakan tentang kepahlawanan
dan petualangan nenek moyang, seperti lakon-lakon “Dewi Sri” atau
“Murwakala”. Pertunjukan wayang diadakan pada malam hari di tempattempat
yang dianggap keramat. Pada masa Hindu-Buddha, kebudayaan
pertunjukan wayang ini terus dilanjutkan dan lebih berkembang lagi dengan
cerita-cerita yang lebih kaya.
Cerita-cerita yang dikembangkan dalam seni wayang kemudian sebagian
besar mengambil epik yang berkembang dari agama Hindu-Buddha terutama
cerita Ramayana dan Mahabharata. Meskipun demikian, tampaknya
cerita yang dikembangkan dalam seni pertunjukan wayang tidak seluruhnya
21
merupakan budaya atau cerita yang sepenuhnya berasal dari India. Unsurunsur
budaya asli memberikan ciri tersendiri dan utama dalam seni wayang.
Hal ini terlihat dengan dimasukkannya tokoh-tokoh baru yang kita
kenal dengan sebutan Punakawan. Tokoh-tokoh punakawan seperti Bagong,
Petruk dan Gareng (dalam seni wayang golek disebut Astrajingga atau
Cepot, Dewala dan Gareng) tidak akan kita temukan dalam cerita-cerita
epik populer India seperti Ramayana dan Mahabharata, sebab penciptaan
tokoh-tokoh tersebut asli dari Indonesia.
Munculnya tokoh Punakawan ini untuk pertamakalinya diperkenalkan
oleh Mpu Panuluh yang hidup pada aman kerajaan Kediri. Dalam karya
sastranya yang berjudul Ghatotkacasraya, Mpu Panuluh menampilkan
unsur punakawan yang berjumlah tiga, yaitu Punta, Prasanta dan Juru
Deh sebagai hamba atau abdi tokoh Abhimanyu, putra Arjuna. Dalam
karyanya tersebut, Mpu Panuluh masih menggambarkan tokoh punakawan
sebagai tokoh figuran yang kaku dan porsi cerita terbesar masih dipegang
oleh tokoh-tokoh utama.
Pada perkembangan selanjutnya tokoh punakawan ini menjadi tokoh
penting dalam seni pertunjukan wayang, sebab memberikan unsur humor
dan lelucon yang dapat membangun cerita wayang lebih menarik lagi.
Dimasukkannya tokoh-tokoh punakawan juga seakan-akan untuk
menggambarkan hubungan antara bangsa India dengan penduduk asli.
Pembauran budaya asli dengan budaya Hindu-Buddha terlihat juga pada
pencampuradukan antara mitos-mitos lama dengan cerita-cerita baru
dari India. Misalnya dalam kitab Pustaka Raja Purwa menggambarkan
dewa-dewa agama Hindu yang turun ke bumi dan menjadi penguasa
di tanah Jawa. Sang Hyang Syiwa menjadi raja di Medang Kamulan,
Sang Hyang Wisnu menggantikan kedudukan Prabu Watu Gunung dengan
gelar Brahma Raja Wisnupati.
9. Bidang seni bangunan merupakan salah satu peninggalan budaya Hindu-
Buddha di Indonesia yang sangat menonjol antara lain berupa candi dan
stupa. Selain itu, terdapat pula beberapa bangunan lain yang berkaitan
erat dengan kehidupan keagamaan, seperti: ulan dan satra merupakan
semacam pesanggrahan atau tempat bermalam para pe iarah; sima adalah
daerah perdikan yang berkewajiban memelihara bangunan suci di suatu
daerah; patapan adalah tempat melakukan tapa; sambasambaran yang
berarti tempat persembahan; meru merupakan bangunan berbentuk tumpang
yang melambangkan gunung Mahameru sebagai tempat tinggal dewadewa
agama Hindu.
22
Kegiatan 1.2
Buatlah suatu tulisan mengenai contoh kebudayaan Hindu-Budha yang masih
hidup di lingkungan sekitarmu.
Letak geografis wilayah Indonesia yang sangat strategis merupakan salah
satu faktor penting yang menyebabkan terjadinya interaksi bangsa Indonesia
dengan bangsa asing. Salah satu interaksi yang terjadi yaitu datangnya bangsa
India ke Indonesia. Dampak interaksi dengan bangsa India adalah masuknya
pengaruh kebudayaan dan agama Hindu-Buddha di Indonesia.
Terdapat berbagai pendapat tentang masuknya agama Hindu-Buddha
di Indonesia. Masuknya agama Hindu-Buddha di Indonesia menyebabkan
banyak rakyat Indonesia yang menganut agama Hindu-Buddha. Disamping
masuknya agama Hindu-Buddha ke Indonesia, masuk pula bentuk-bentuk
kebudayaannya. Bentuk-bentuk kebudayaan tersebut misalnya dalam bentuk
seni bangunan seperti candi, patung atau arca, seni sastra dan bahasa, seni
relief, politik dan pemerintahan, serta bidang pendidikan.
Hipotesis Brahmana : suatu pandangan yang menyatakan bahwa yang
menyebarkan agama Hindu-Buddha di Indonesia
ialah golongan pendeta atau Brahmana.
Hipotesis Ksatria : suatu pandangan yang menyatakan bahwa yang
menyebarkan agama Hindu-Buddha di Indonesia
ialah golongan bangsawan atau para raja.
Hipotesis Waisya : suatu pandangan yang menyatakan bahwa yang
menyebarkan agama Hindu-Buddha di Indonesia
ialah golongan pedagang.
Teori arus balik : suatu teori yang menjelaskan bahwa bangsa Indonesia
ketika menerima pengaruh Hindu-Buddha tidak
bersikap pasif, tetapi bersikap aktif yaitu banyak
bangsa Indonesia yang pergi ke India untuk belajar
agama Hindu-Buddha, kemudian mereka kembali
ke Indonesia dan menyebarkan ilmu yang mereka
peroleh dari India.
RINGKASAN
GLOSARIUM
23
Teori kolonisasi : suatu teori yang menjelaskan tentang masuknya
pengaruh India di Indonesia yang menyatakan bahwa
bangsa India sangat aktif dalam menyebarkan agama
Hindu-Buddha, sedangkan bangsa Indonesia bersikap
pasif hanya sebagai penerima saja.
I. Pilihan Ganda
Pilihlah salah satu jawaban yang kamu anggap paling benar!
1. Teori yang menempatkan bangsa India sebagai pemegang peranan aktif
dalam proses masuknya pengaruh agama Hindu-Buddha di Indonesia,
yaitu teori ....
a. Brahmana d. Kolonisasi
b. Waisya e. Arus balik
c. Ksatria
2. Proses masuknya pengaruh Hindu-Buddha di Indonesia dibawa oleh
para pedagang India yang singgah ke wilayah Indonesia. Pernyataan
tersebut merupakan inti dari teori ....
a. Brahmana d. Kolonisasi
b. Waisya e. Arus balik
c. Ksatria
3. Hipotesis Ksatria diperkuat dengan cerita panji yang berkembang dalam
masyarakat Indonesia yang memperlihatkan adanya proses penaklukan
daerah-daerah Indonesia oleh para Ksatria India. Pernyataan tersebut
merupakan inti dari hipotesis yang dikembangkan oleh ....
a. C.C Berg d. N.J Korm
b. J.L Moens e. Van Leur
c. Majumdar
4. Kekuatan hipotesis Brahmana dalam proses masuknya agama Hindu-
Buddha ke Indonesia terlihat dari ....
a. berkembangnya sistem kerajaan di Indonesia
b. banyaknya bangunan candi yang memiliki seni arsitektur tinggi
c. berkembangnya bahasa Sanskerta
d. berkembangnya upacara-upacara keagamaan
e. banyaknya prasasti yang menggunakan huruf Pallawa
SOAL-SOAL LATIHAN
24
5. Teori arus balik yang dikemukakan oleh F.D.K Bosch mengemukakan
bahwa proses masuknya pengaruh budaya India ke Indonesia terjadi
karena peran aktif yang dilakukan oleh ....
a. Golongan Ksatria
b. Golongan Brahmana
c. Golongan Waisya
d. Golongan Sudra
e. Bangsa Indonesia
6. Salah satu bukti yang menunjukkan peran aktif bangsa Indonesia dalam
proses masuknya pengaruh agama Hindu-Buddha di Indonesia, ialah
....
a. Cerita Panji
b. Prasasti Nalanda
c. Candi Borobudur
d. Jaya Prasasti
e. Bahasa Sanskerta
7. Kitab yang digunakan sebagai pedoman atau dasar-dasar dalam pembangunan
suatu candi yaitu kitab ....
a. Atharva Veda
b. Yajur Veda
c. Silpasastra
d. Ramayana
e. Tripitaka
8. Berikut ini ialah kelompok candi yang terdapat di Jawa Timur, yaitu
candi ....
a. Jago, Kidal, dan Badut
b. Kidal, Kalasan, dan Prambanan
c. Penataran, Prambanan, dan Borobudur
d. Penataran, Kalasan, dan Prambanan
e. Jago, Penataran, dan Prambanan
9. Salah satu bentuk akulturasi antara budaya Indonesia dengan budaya
India pada bentuk bangunan candi terlihat dari ....
a. relief yang dilukiskan pada candi
b. arca atau patung yang terdapat di candi
c. bentuk stupa
d. bentuk candi yang berupa punden berundak
e. hiasan yang terdapat pada candi
25
10. Di bawah ini merupakan bukti-bukti yang menunjukkan perkembangan
pendidikan pada masa Hindu-Buddha di Indonesia, kecuali ....
a. catatan perjalanan Fa-Hien
b. catatan perjalanan I-Tsing
c. Prasasti Nalanda
d. pembangunan Sriwijaya Asrama oleh Raja Airlangga
e. kerja sama antara Hui-Ning dan Jnanabadra dalam penerjemahan
kitab agama Buddha
11. Kepercayaan asli bangsa Indonesia dalam hal pemujaan arwah nenek
moyang berakulturasi dengan budaya Hindu-Buddha dalam bentuk ....
a. seni pahat atau relief
b. seni sastra
c. seni arca atau patung
d. seni tari
e. seni musik
12. Penulisan karya sastra yang bercorak Hindu-Buddha mengalami perkembangan
yang sangat pesat pada masa kekuasaan kerajaan ....
a. Kediri d. Singhasari
b. Mataram e. Sriwijaya
c. Majapahit
13. Kitab Negarakertagama menceritakan tentang perkembangan kerajaan
Majapahit pada masa kekuasaan Raja Hayam Wuruk. Kitab Negarakertagama
merupakan karya sastra yang ditulis oleh ....
a. Mpu Panuluh d. Mpu Tanakung
b. Mpu Prapanca e. Mpu Tantular
c. Mpu Kanwa
14. Epik yang tertera dalam relief candi Prambanan mengambil penggalan
kisah yang terdapat dalam cerita ....
a. Arjunawiwaha d. Negarakertagama
b. Bharatayudha e. Ramayana
c. Mahabharata
15. Salah satu ciri asli budaya lokal Indonesia dalam seni pertunjukan wayang,
yaitu dengan lahirnya tokoh ....
a. Arjuna d. Gatotkaca
b. Bhatara Guru e. Punakawan
c. Dewi Sri
26
II. Soal Uraian
Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan singkat dan jelas!
1. Jelaskan perbedaan antara teori kolonisasi dengan teori arus balik dilihat
dari siapa yang berperan dalam proses masuknya pengaruh Hindu-Buddha
di Indonesia!
2. Buatlah identifikasi yang menunjukkan kelebihan dan kekurangan dari
teori kolonisasi dan teori arus balik?
3. Buatlah tiga contoh bentuk akulturasi budaya di Indonesia antara budaya
asli dengan budaya Hindu-Buddha!
4. Buatlah perbandingan antara candi-candi yang terdapat di Jawa Tengah
dengan candi-candi yang terdapat di Jawa Timur dilihat dari aspek fungsi,
bentuk, dan ukuran candi!
5. Jelaskan pengaruh masuknya agama Hindu-Buddha terhadap perkembangan
politik dan pemerintahan di Indonesia!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar